Selasa, 27 September 2011

Asuhan Keperawatan Jiwa : Skizofrenia



  1. DEFINISI
Skizofrenia adalah suatu gangguan dengan etologi tak diketahui atau diatndai oleh gejala psikotik yang secara berarti menggangu fungsi dan menyangkut gangguan dalam perasaan, berpikir, dan berperilaku. Gangguan ini kronik dan umumnya memiliki fase prodromal, fae aktif dengan delusi, halusinasi atau keduanya dan suatu fae residual di mana gangguan itu mungkin dalam keadaaan remisi.

  1. ETIOLOGI
Tidak ada factor etiologik tunggal yang diangap kausatif. Faktor predisposisi :
1.       Teori Biologis
a.       Faktor genetik
b.       Kelainann skizofrenia yang menyatakan adanya peningkatan dari
dopamine neurotransmitter yang diperkirakan menghasilkan gejala- gejala peningkatan aktivitas berlebihan dan pemecahan asosiasi- asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis. ( Holland Swarth, 1990 )
2.       Teori Psikologik
a.       Teori Sistem Keluarga
      Brown ( 1978 ) menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga, konflik suami istri mempengaruhi anak.
b.       Teori Interpersonal
      Sullivan ( 1953 ) orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan suatu hubungan orang tua yang penuh dengan ansietas tinggi.
c.       Teori Psikodinamik
      Hartman ( 1964 ) psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah, perkembangan yang dihambat oleh suatu hubungan yang saling mempengaruhi antara orang tua – anak.

  1. GEJALA DAN TANDA
1.       Gangguan fungsi keseluruhan
2.       Gangguan sensasi diri
3.       Isi pikir abnormal
4.       Bentuk pikiran ilogis
5.       Persepsi diforsi
6.       Afek berubah
7.       Perubahan kemauan
8.       Gangguan fungsi interpersonal
9.       Perubahan perilaku psikomotor
10.   Sensorium

  1. TIPE SKIZOFRENIA
1.       Katatonik
      Stupor atau mutisme, negativisme, rigiditas, ketegangan tak bertujuan, posturig / sikap mematung.
2.       Hebrefenik
      Inkoherensi yang jelas, afek datar, tak serasi, ketololan disertai ketaw akekanak – kanakan, senyum – senyum sendiri, waham sistemik tidak ada, tetapi kadang – kadang berupa waham dan halusinasi yang trpecah – pecah.
3.       Disorganisasi
      Asosiasi melonggar jelas, inkoherensi atau perilaku sangat disorganisasi, afek inapropiat hebat atau datar, tak memenuhi criteria tipe katatonik.
4.       Paranoid
      Preokupasi dengan delusi sistemik atau halusinasi auditorik, sering berkaitan dengan tema tunggal. Tak satupun dari inkoheren pelanggaran asosiasi, afek inapropiat mencolok atau datar, perilaku katatonik, perlaku disorganisasi hebat.

5.       Tipe Tak Tergolong
      Delusi mencolok, halusinasi, inkoheren atau perilaku sangat disorientasi. Tak menemui criteria paranoid, katatonik atau disorganisasi.
6.       Tipe Residual
      Absennya delusi mencolok, halusinasi, inkoheren atau perilaku sangat disorganisasi. Berlanjutnya bukti gangguan lewat dua atau lebih gejala residual, masih mungkin mengadakan hubngan social dengan cukup wajar.

  1. PERJALANAN SKIZOFRRENA
Gejala prodromal berupa cemas, gundah, terror atau depresi umumnya mendahului skizofrenia,yang mungkin akut atau bertahap. Gejala prodromal dapat terdapat selama berbulan - bulan sebelum diagnosis dibuat.
Umumnya muncul pada usia belasan akhir atau zona awal. Kejadian pencetus seperti trauma, emosi, obat dan separasi dapat memicu episode penyakit pada predisposisi.klasiknya, Perjalanan skizofrenIa mengalami deteriorasi sesuai perjalanan waktu, eksaserbasi akut superimposial pada gambaran kronik, kerentaan terhadap stress berlangsung seumur hidup
Episode depresif pasca psikotik dapat terjadi pada fase residual. Selama perjalan penyakitnya, gejala psikotik positif yang lebih semarak, seperti waham aneh dan halusinasi, cenderung berkurang intensitasnya, sedangkan gejala negative lebih residual seperti hygiene buruk, repons emosi datar, dan keanehan perilaku akhirnya mungkin meningkat.

  1. TERAPI
1.       Psikofarmakologik
2.       Terpi elektrokonsulsif
3.       Psikososial
a.     Terapi perilaku
b.     Terapi kelompok
c.     Terapi keluarga
d.    Psikoterapi suportif
e.     Teknik wawancara

  1. PROGNOSIS
1.       Prognosis baik berkaitan dengan
a.       Onset akut dengan fektor pencetus jelas
b.       Riwayat social dan pekerjaan premorbid yang baik
c.       Gejala nood ( khususnya depresi )
d.      Sub tipe paranoid
e.       Kemungkinan sub tipe katatonik
f.        Menikah
g.       Riwayat keluarga gangguan mood
h.       Predominasi gejala positif
i.         Konfulsi
j.         Tegang,cemas, hostilitas

2.       Prognosis buruk berkaitan dengan:
a.       Kemunculan bertahap tanpa factor pencetus
b.       Riwayat social dan pekerjaan premorbid yang buruk
c.       Perilaku menyendiri, akustik
d.      Sub tipe disorganisasi dan non diferensiasi
e.       Tak nikah
f.        Riwayat keluarga skizofrenia
g.       Riwayat persalinan sulit
h.       Adanya tanda dan gajala neuroglik
i.         Predominan gejala negative
j.         Absennya gejala mood atau hostilitas berlebihan

  1. PROSES PERAWATAN
1.       Pengkajian
a.       Fisik
1)      Menolak makan
2)      Mau makan hanya makanan tertentu
3)      Mau makan hanya makanan yang disediakan  sendiri
4)      Gangguan eliminasi
5)      Tidak perhatian terhadap perawatan diri

b.       Emosi
1)      Ekpresi muka sedih /gembira atau ketakutan
2)      Cemas atau panic
3)      Mudah tersinggung, putud asa
4)      Berbicara kasar dan menyakiti orang lain
c.       Sosial
1)      Menarik diri, sikap bermusuhan, curiga
2)      Gerakan tidak tercontrol
3)      Menghindar dari orang lain
4)      Mendominasi pembicaraan
d.      Intelektual
1)      Berfikir berpusat pada wahamnya
2)      Pola pikir tidak logis
3)      Isi pikir sesuai dengan waham
4)      Tidak bisa membedakan, idak terarah / kacau, tidak sesuai dengan kenyataan
e.       Spiritual
1)      Menjalankan kegiatan keagamaan secara berlebihan,atau sama sekali tidak melaksakan
2)      Meragukan keyakinan / agama yang selama ini dianut
3)      Mempunyai keinginan untuk mati

2.       Masalah Keperawatan
a.       Resiko mencederai diri, orang lain atau lingkungan
b.      Gangguan hubungan social : bermusuhan / manipulasi / ketakutan
c.       Resiko gangguan nutrisi : pemasukan tidak sesuai kebutuhan
d.      Gangguan perawatn diri

3.       Tujuan keperawatan
a.       Klien tidak mencederai diri, orang lain, atau lingkungan
b.       Dapat membina dan mempertahankan hubungan dengan orang lain tanpa rasa curiga
c.       Dapat memenuhi kebutuhan nutrisi

4.       Tindakan Keperawatn
a.       Psiko Terapeutik
1)      Membina hubungan saling percaya
2)      Membantu klien meningkatkan harga dirinya
3) Membantu klien dalam menemukan cara ( koping ) yang konstruktif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi seperti rasa takut, rendahdiri, bermusuhan.
b.       Pendidikan Kesehatan
1)      Membantu klien mengenali wahamnya
2)      Mengikuti keluarga dalam mengatasi masalah klien
3)      Membimbing klien melaksanakan perawatan diri
c.       Terapi Somatik
Memberi obat sesuai ketentuan
d.      Lingkungan Terapeutik
1)      Menciptakan lingkungan fisik yang dapat menciptakan realita
2)      Menciptakan lingkungan social

5.       Evaluasi
a.       Klien tidak mencederai diri, orang lain, maupun lingkungannnya
b.   Mampu membina dan mempertahankan hubungan yang akrab dengaqn orang lain tanpa perasaan tertekan dan terancam
c.       Dapat mempertahankan keeimbangan ntrisi, cairan, dan eliminasi.



DAFTAR PUSTAKA

Kaplan dan Sadock, 1997. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinik.  Jakarta: Binarupa Aksara.

SAK  Jiwa Rs Grhasia, 2006. Yogyakarta

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Refika Adifama

Asuhan Keperawatan Pemfigus Vulgaris




A.     PENGERTIAN
Pemfigus vulgaris merupakan penyakit serius pada kulit yang ditandai oleh timbulnya bula ( lepuh ) dengan berbagai ukuran ( misalnya, 1- 10 cm ) pada kulit yang tampak normal dan membrane mukosa ( misalnya mulut, vagina ).
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

B.     PENYEBAB
Bukti yang ada menunjukkkan bahwa pemfigus vulgaris merupakan penyakit autoimun yang melibatkan IgG, suatu immunoglobulin. Diperkirakan bahwa antibody pemfigus ditujukan langsung kepada antigen permukaan sel yang spesifik dalam sel- sel epidermis. Lepuh terbentuk akibat reaksi antigen- antibody. Kadar antibody dalam serum merupakan petunjuk untuk memprediksikan intensitas penyakit. Faktor- faktor genetik dapat memainkan peranan dalam perkembangan penyakit dengan insidensi tertinggi pada orang- orang keturunan Yahudi. Kelainan ini biasanya terjadi pada laki- laki dan wanita dalam usia pertengahan serta akhir usia dewasa.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

C.     MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar pasien pada mulanya ditemukan dengan lesi oral yang tampak sebagai erosi yang bentuknya ireguler yang terasa nyeri, mudah berdarah dan sembuhnya lambat. Bula pada kulit akan membesar, pecah dan meninggalkan daerah- daerah erosi yang lebar serta nyeri yang disertai dengan pembentukan krusta dan perembesan cairan. Bau yang menusuk dank has akan memancar dari bula dan serum yang merembes keluar. Kalau dilakukan penekanan yang minimal akan terjadi pembentukan lepuh atau pengelupasan kulit yang normal ( tanda Nikolsky ). Kulit yang erosi sembuh dengan lambat sehingga akhirnya daerah tubuh yang terkena sangat luas. Superinfeksi bakteri sering terjadi.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

D.     KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering pada pemfigus vulgaris terjadi ketika proses penyakit tersebut menyebar luas. Sebelum ditemukannya kortikosteroid dan terapi imunosupresif, pasien sangat rentan terhadap infeksi bakteri sekunder. Bakteri kulit relative mudahmencapai bula karena bula mengalami perembesan cairan, pecah dan meninggalkan daerah-daerah terkelupas yang terbuka terhadap lingkungan.
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit terjadi akibat kehilangan cairan dan protein ketika bula mengalami rupture. Hipoalbuminemia lazim terjadi kalau proses penyakitnya mencakup daerah permukaan kulit tubuh dan membran mukosa yang luas.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

E.     EVALUASI DIAGNOSTIK
Spesimen dari bula dan kulit di sekitarnya akan memperlihatkan akantolisis ( pemisahan sel- sel epidermis satu sama lain karena kerusakan atau abnormalitas substansi intrasel ). Antibodi yang beredar ( antibody pemfigud ) dapat dideteksi melalui pemeriksaan imunofluoresen terhadap serum pasien.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

F.      PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi adalah untuk mengendalikan penyakit secepat mungkin, mencegah hilangnya serum serta terjadinya infeksi sekunder, dan meningkatkan pembentukan ulang epitel kulit ( pembaruan jaringan epitel ).
Kortikosteroid diberikan dengan dosis tinggi untuk mengendalikan penyakit dan menjaga agar kulit bebas dairi bula. Kadar dosis yang tinggi dipertahankan sampai kesembuhan terlihat jelas. Pada sebagian kasus, terapi kortikosteroid harus dipertahankan seumur hidup pasien.
Kortikosteroid diberikan bersama makanan atau segera sesudah makan, dan dapat disertai dengan pemberian antacid sebagai profilaksis untuk mencegah komplikasi lambung. Yang penting pada penatalaksanaan terapeutik adalah evaluasi berat badan, tekanan darah, kadar glukosa darah dan keseimbangan cairan setiap hari.
Preparat imunosupresif ( azatioprin, siklofosfamid, emas ) dapat diresepkan dokter untuk mengendalikan penyakit dan mengurangi tekanan kortikoteroid. Plasmaferesis ( pertukaran plasma ) secara temporer akan menurunkan kadar antibody serum dan pernah digunakan dengan keberhasilan yang bervariasi sekalipun tinadakan ini umumnya hanya dilakukan unuk kasusu- kasus mengancam jiwa pasien.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

G.    PROSES KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Karena penderita pemfigus biasanya dirawat di rumah sakit pada suatu saat sewaktu terjadi eksaserbasi, perawat segera mendapatkan bahwa pemfigusm bisa menjadi penyebab ketidakmampuan yang bermakna. Gangguan kenyamanan yang konstan dan distress yang dialami pasien serta bau lesi yang amis membuat pengkajian serta penatalaksanaan keperawatan yang efektif sebagai suatu tantangan.
Aktivitas penyakit dipantau secara klinis dengan memeriksa kulit untuk mendeteksi timbulnya bula yang baru yang biasanya bedinding tegagng dan tidak mudah pecah. Kulit kapala, dada dan daerah- daerah kulit di sekitarnya harus diperiksa untuk menemukan bula. Daerah- daerah tempat kesembuhan sudah terjadi dapat memperlihatkan tanda- tanda hiperpigmentasi. Perhatian yang khusu harus diberikan untuk mengkaji tanda- tanda dan gejala infeksi.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

2.       Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri pada rongga mulut dan kulit yang berhubungan dengan pembentukan bula serta erosi
b.       Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan ruptura bula dan daerah kulit yang terbuka ( terkelupas )
c.       Ansietas dan kemampuan koping tidak efektif yang berhubungan dengan penampilan kulit dan tidak adanya harapan bagi kesembuhan
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

3.       Masalah Komplikasi- Komplikasi Potensial
a.   Infeksi dan sepsis yang berhubungan dengan hilangnya barier protektif kulit dan membrane mukosa
b.      Kurang volume cairan dan gangguan keseimbangan elektrilit yang berhubungan dengan hilangnya cairan jaringan
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

4.      Intervensi Keperawatan
a.       Meredakan ketidaknyamanan
           Keseluruhan rongga mulut pasien dapat terkena erosi dan permukaannya terbuka. Jaringan nekrotik dapat terbentuk di daerah ini,sehingga menambah penderitaan pasien dan mengganggu asupan makanan. Penurunan berat badan dan hipoproteinemia dapat terjadi. Perawatan higiene oral yag teliti sangat penting untukmenjaga agar mukosaoral tetap bersih dan memungkinkan terjadinya regenerasi epitel. Kumur mulut yang sering dilakukan untuk membersihkan debris dan mengurangi nyeri di daerah ulserasi. Bibir dijag aagar tetapbasah dengan cara mengoleskan lanolin, vaselin atau pelembab bibir. Tindakan cool mist akan membantu melembabkan udara ruangan.
b.       Meningkatkan Integritas Kulit
            Kompres yang basah atau sejuk atau terapi rendaman merupakan tindakan protektif yang dapat mengurangi rasa nyeri. Pasien dengan lesi yang luas dan nyeri harus mendapatkan premedikasi dahulu dengan preparat analgesik sebelum perawatan kulitnya mulai dilakukan. Pasien dengan daerah bula yang luas memiliki bau yang khas yang akan berkurang setelah infeksi sekunder terkendali. Sesudah kulit pasien dimandikan, kulit tersebut dikeringkan dengan hati- hati dan ditaburi bedak yang tidak iritatif agar pasien dapat bergerak lebih bebas di atas tempat tidurnya. Hipotermia sering terjadi, dan tindakan untuk menjaga agar pasien tetap hangat serta nyaman merupakan prioritas dalam aktivitas keperawatan.
c.       Mengurangi Ansietas
            Hal yang kritis dalam penatalaksanaan keperawatan pasien pemfigus adalah terciptanya hubungan saling percaya anatara pasien dan perawat. Hal ini mencakup cara mendengarkan, berinteraksi, dan memperlihatkan sikap yang hangat serta penuhn perhatian. Pasien harus didorong untuk mengekspresikan perasaan cemas, gangguan kenyamanan dan perasaan keputusasaannnya secara bebas.
            Perhatian pada kebutuhan psikologis pasien menuuntut kehadiran perawat saat diperlukan, pemberian pelayanan keperawatan yang profesional dan pelaksanaan penyuluhan bagi pasien beserta keluarganya. Pengaturan agar anggota keluarga dan setiap teman dekatnya untuk lebih banyak mencurahkan waktu bersama pasien dapat menjadi upaya yang bersifat suportif.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )

5.       Pemantauan dan Penanganan Komplikasi Potensial
a.       Infeksi dan Sepsis
            Kebersihan kulit harus dijaga untuk mengurangi debris serta kulit yang mati dan mencegah infeksi. Infeksi sekunder dapat disertai dengan bau yang menusuk dari lesi oral. Candida albicans sering ditemukan dalam mulut pada pasien- pasien yang mendapatkan terapi kortikosteroid dosis tinggi. Rongga mulut harus diinspeksi setiap hari,dan setiap perubahan dicatat serta dilaporkan. Perhatian khusus diberikan untuk menilai keadaan pasien guna menemukan tanda- tanda dan gejala infeksi local serta sistemik. Tanda- tanda vital pasien dicatat dan fluktuasi suhu tubuh dipantau. Pasien diobservasi untuk gejala menggigil, sementara semua hasil sekresi dan ekskresi dipantau untuk menemukan setiap perubahan yang sugestif kea rah infeksi. Preparat antibiotic diberikan sesuai dengan program, dan respons terhadap terapi dicatat. Petugas kesehatan harus melakasanakan teknik pencucian tangan yang efektif dan menggunakan sarung tangan. Kontaminasi lingkungan harus dihindari sedapat mungkin dengan meminta petugas kebersihan membersihakan debu memakai lap basah dan mengepel lantai dengan kain yang basah pula.
b.       Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
            Kehilangan cairan dan natrium klorida yang signifikan terjadi dari kulit yang mengalami erosi luas. Kehilangan natrium klorida ini merupakan penyebab banyak gejala sistemik, yang berkaitan dengan penyakit dan harus diatasi dengan pemberian infus larutan salin.
            Sejumlah protein dan darah akan hilang dari bagian- bagian kulit yang terkelupas. Terapi komponen darah dapat diprogramkan untuk mempertahankan volume darah di samping untuk memelihara konsentrasi protein plasma dan hemoglobin darah. Kadar serum albumin, protein, hemoglobin dan hematokrit harus terus dipantau.
            Pasien didorong untuk mempertahankan masukan cairan yang memadai. Minum cairan sejuk dan non iritatif dapat dianjurkan untuk memelihara hidrasi. Makan sedikit- sedikit tapi sering atau mengemil dengan makanan camilan yang tinggi kalori tinggi protein akan membantu mempertahankan status nutrisi.
( Smeltzer, Suzanne. C. 2001 )



DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. Jakarta : EGC.

Asuhan Keperawatan Presbiopia



“PRESBIOPIA”

  1. PENGERTIAN
Presbiopia adalah kondisi di mana mata menunjukkan kemampuan yang makin lama makin berkurang untuk melihat benda dekat dengan jelas karena penuaan.

  1. ETIOLOGI
Presbiopia dapat terjadi karena kelemahan otot akomodasi atau lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sclerosis lensa.
( Istiqamah, 2004 )
Mekanisme nyata dari presbiopia tidak diketahui kepastiannya, bukti penelitian lebih kuat mendukung berkurangnya elastisitas dari crystalline lens, walaupun perubahan pada kelengkungan lensa dari pertumbuhan yang terus-menerus,dan berkurangnya kekuatan dari cilliary muscles ( otot yang membelokkan dan meluruskan lensa ) juga didalilkan sebagai sebab.

  1. PATOFISIOLOGI
Cahaya masuk ke mata dan dibelokkan ( refraksi ) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata ( kornea, humor aqueus, lensa, humor vitreus ) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina.
Mata mengatur ( akomodasi ) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Penglihatan dekat memerlukan kontraksi dari cilliary body, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi cilliary body yang diikuti relaksasi ligament pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina.
( Long, 1996 )
Pada mata presbiopia yang dapat terjadi karena kelemahan otot akomodasi atau lensa mata tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya, menyebabkan kurang bisa mengubah bentuk lensa untuk memfokuskan mata saat melihat. Akibat gangguan tersebut bayangan jatuh di belakang retina. Karena daya akomodasi berkurang,  maka titik dekat mata makin menjauh.
( Istiqamah, 2004 )
Akomodasi suatu proses aktif yang memerlukan usaha otot, sehingga dapat lelah. Jelas musculus cilliary salah satu otot yang terlazim digunakan dalam tubuh. Derajat kelengkungan lens yang dapat ditingkatkan jelas terbatas dan sinar cahaya dari suatu objek yang sangat dekat individu tak dapat dibawa ke suatu focus di atas retina, bahkan dengan usaha terbesar. Titik terdekat dengan mata,  tempat suatu objek dapat dibawa ke focus jelas dengan akomodasi dinamai titik dekat penglihatan. Titik dekat berkurang selama hidup, mula-mula pelan-pelan dan kemudian secara cepat dengan bertambanya usia, dari sekitar 9 cm pada usia 10 tahun sampai sekitar 83 cm pada usia 60 tahun. Pengurangan ini terutama karena peningkatan kekerasan lens, dengan akibat kehilangan akomodasi karena penurunan terus-menerus dalam derajat kelengkungan lens yang dapat ditingkatkan. Dengan berlalunya waktu, individu normal mencapai usia 40-45 tahun, biasanya kehilangan akomodasi, telah cukup menyulitkan individu membaca dan pekerjaan dekat.
( Ganong, 1995 )

  1. MANIFESTASI KLINIS
Karena daya akomodasi berkurang, maka titik dekat mata makin menjauh dan pada awalnya klien akan kesulitan membaca dekat. Dalam upaya untuk membaca lebih jelas, maka klien cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan objek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekat klien, dengan demikian objek dapat dibaca lebih jelas. Klien akan memberikan keluhan setelah membaca mata lelah, berair dan sering merasa pedas.
( Istiqamah, 2004 )
Gejala umumnya adalah sukar melihat pada jarak dekat yang biasanya terdapat pada usia 40 tahun, di mana pada usia ini amplitudo akomodasi pada klien hanya menghasilkan titik dekat sebesar 25 cm. Pada jarak ini seseorang emetropia yang berusia 40 tahun dengan jarak baca 25 cm akan menggunakan akomodasi maksimal sehingga menjadi cepat lelah, membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca, dan memerlukan sinar yang lebih terang.
( Masjoer, dkk 2001 )
Ketika individu menjadi presbiopia mereka mendapati perlu  memegang buku ,majalah, surat kabar, daftar menu dan bahan bacaan lain agak jauh agar focus dengan sebaik-baiknya. Ketika mereka melakukan pekerjaan dekat,seperti menyulam atau menulis tangan, mereka mungkin merasa sakit kepala atau kelelahan mata, atau maerasa letih.
Gejala pertama kebanyakan orang presbiopia adalah kesulitan membaca huruf cetak yang halus, terutama sekali dalam kondisi cahaya redup; kelelahan mata ketika membaca dalam waktu yang lama; kabur pada jarak dekat atau pandangan dikaburkan sebentar ketika mengalihkan di antara jarak pandang. Banyak penderita presbiopia telah lanjut mengeluh lengan mereka dirasa menjadi too short untuk memegang bahan bacaan pada jarak yang nyaman.

  1. PEMERIKSAAN
1.      Pemeriksaan Tajam Penglihatan
Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan Kartu  Snellen.
Cara :
a.       Pasien duduk dengan jarak 6 m dari kartu snellen dengan satu mata ditutup
b.      Pasien diminta membaca huruf yang tertulis di kartu, mulai dari baris paling atas ke bawah, dan ditentukan baris terakhir yang masih dapat dibaca seluruhnya dengan benar.
c.       Bila pasien tidak dapat membaca baris paling atas ( terbesar ), maka dilakukan uji hitung jari dari jarak 6 m.
d.      Jika pasien tidak dapat menghitung jari pada jarak 6 m, maka jarak dapat dikurangi satu meter, sampai maksimal jarak penguji dengan pasien satu meter.
e.       Jika pasien tidak dapat melihat, dilakukan uji lambaian tangan dari jarak satu meter.
f.       Jika pasien tetap tidak bisa melihat lambaian tangan, dilakukan uji dengan arah sinar.
g.      Jika penglihatan sama sekali tidak mengenal adanya sinar, maka dikatakan penglihatannya adalah nol (0) atau buta total.

Penilaian
Tajam penglihatan normal adalah 6/6. Berarti pasien dapat membaca seluruh huruf dalam kartu snellen dengan benar.
Bila baris yang dapat dibaca seluruhnya bertanda 30, maka dikatakan tajam penglihatan 6/30. Berarti ia hanya dapat melihat pada jarak 6 m yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 30 m.
Bila dalam uji hitung jari, pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 m, maka dinyatakan tajam penglihatan 3/60. Jari terpisah dapat dilihat orang normal pada jarak 60 m.
Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 m. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatan adalah 1/300.
Bila mata hanya mengenal adanya sinar saja, tidak dapat melihat lambaian tangan, maka dikatakan sebagai 1/~. Orang normal dapat melihat adanya sinar pada jarak tidak berhingga.

2.      Pemeriksaan Kelainan  Refraksi
Dilakukan pada satu mata secara bergantian, biasanya dimulai dengan mata kanan kemudian mata kiri. Dilakukan setelah tajam penglihatan diperiksa dan diketaui terdapat kelainan refraksi.
Cara :
a.       Pasien duduk dengan jarak 6 m dari kartu snellen.
b.      Satu mata ditutup, dengan mata yang terbuka pasien diminta membaca baris terkecil yang masih dapat dibaca.
c.       Pada mata yang terbuka diletakkan lensa positif +0,50 untuk menghilangkan akomodasi pada saat pemeriksaan.
d.      Kemudian diletakkan lensa positif tambahan, dikaji :
1).  Bila penglihatan tidak bertambah baik, berarti pasien tidak
hipermetropia
2). Bila bertambah jelas dan dengan kekuatan lensa yang ditambah perlahan-lahan bertambah baik, berarti pasien menderita hipermetropia. Lensa positif terkuat yang masih memberikan ketajaman terbaik merupakan ukuran lensa koreksi untuk mata hipermetropia tersebut.
e.       Bila penglihatan tidak bertambah baik, maka diletakkan lensa negative. Bila menjadi jelas, berarti pasien menderita myopia. Ukuran lensa koreksi adalah lensa negative teringan yang memberikan ketajamam penglihatan maksimal.
f.       Bila baik dengan lensa negative maupun positif penglihatan tidak maksimal ( penglihatan tidak dapat mencapai 6/6 ), maka dilakukan uji pinhole. Letakkan pinhole di depan mata yang sedang diuji dan diminta membaca baris terakhir yang masih dapat dibaca sebelumnya. Bila :
1). pinhole tidak memberikan perbaikan, berarti mata tidak dapat
dikoreksi lebih lanjut karena media penglihatan keruh, terdapat
kelainan pada retina atau saraf optic
2). terjadi perbaikan penglihatan, maka berarti terdapat
astigmatisma atau silinder pada mata tersebut yang belum mendapat koreksi.
g.      Bila pasien astigmatisma, maka pada mata tersebut dipasang lensa positif yang cukup besar untuk membuat pasien menderita kelainan refraksi astigmatismus miopikus.
h.      Pasien diminta untuk melihat kartu kipas astigmat dan ditanya garis pada kipas yang paling jelas terlihat.
i.        Bila pebedaan tidak terlihat, lensa positif diperlemah sedikit demi sedikit hingga pasien dapat melihat garis yang terjelas dan kabur.
j.        Dipasang lensa silinder negative dengan sumbu sesuai dengan garis terkabur pada kipas astigmat.
k.      Lensa silinder negative diperkuat sedikit demi sedikit pada sumbu tersebut hingga sama jelasnya dengan garis lainnya.
l.        Bila sudah sama jelasnya, dilakukan tes kartu snellen kembali.
m.    Bila tidak didapatkan hasil 6/6, maka mungkin lensa positif yang diberikan terlalu berat, harus dikurangi perlahan-lahan, atau ditambah lensa negative perlahan-lahan sampai tajam penglihatan menjadi 6/6. Derajat astigmat adalah ukuran lensa silinder negative yang dipakai hingga gambar kipas astigmat tampak sama jelas.


3.      Pemeriksaan Presbiopia
Untuk usia lanjut dengan keluhan dalam membaca, dilanjutkan dengan pemeriksaan presbiopia.
Cara :
a.       Dilakukan penilaian tajam penglihatan dan koreksi kelainan refraksi bila terdapat myopia, hipermetropia, atau astigmatisma, sesuai prosedur di atas.
b.      Pasien diminta membaca kartu baca pada jarak 30-40 cm ( jarak baca ).
c.       Diberikan lensa mulai +1 dinaikkan perlahan-lahan sampai terbaca huruf terkecil pada kartu baca dekat dan kekuatan lensa ini ditentukan.
d.      Dilakukan pemeriksaan mata satu per satu.
( Masjoer, dkk 2001 )

  1. PENATALAKSANAAN
1.        Kacamata
Kacamata dengan bifocal atau Progressive Addition Lenses ( PALs ) adalah koreksi yang paling umum untuk presbiopia. Bifokal mempunyai dua cara untuk pemfokusan : bagian besar dari lensa kacamata untuk nearsightedness atau farsightedness, sedangkan bagian terbawah lensa memegang preskripsi terkuat untuk penglihatan dekat untuk pekerjaan dekat. PALs mirip denagan lensa bifocal, tetapi PALs memberikan transisi penglihatan yang lebih bertahap di antara preskripsi, dengan tidak ada garis visible di antara keduanya.
Kacamata baca adalah pilihan lain. Tidak seperti bifocal atau PALs yang sebagian besar orang menggunakannya setiap hari, kacamata baca hanya digunakan selama pekerjaan dekat.
Biasanya diberikan kacamata baca untuk membaca dekat dengan lensa sferis positif yang dihitung berdasarkan amplitudo akomodasi pada masing-masing kelompok umur :
+1,0 D untuk usia 40 tahun
+1,5 D untuk usia 45 tahun
+2,0 D untuk usia 50 tahun
+2,5 D untuk usia 55 tahun
+3,0 D untuk usia 60 tahun.
( Masjoer, dkk 2001 )

2.        Lensa Kontak
Ada lensa kontak untuk presbiopia, yaitu multifocal contact lenses. Kamu dapat memperolehnya dalam bentuk gas permeable atau soft lense materials. Tipe lensa kontak yang lain untuk koreksi presbiopia adalah monovision, di mana satu mata menggunakan preskripsi penglihatan jarak jauh dan mata yang lain menggunakan perskripsi untuk penglihatan dekat. Otak belajar menyerupai satu mata atau mata lainnya untuk perbedaan tugas yang sulit. Ketika beberapa orang menyukai solusi ini, beberapa orang yang lainnya mengeluh pusing atau mual, atau kesalahan memperkirakan jarak dalam hubungan benda-benda yang berjauhan satu sama lain dan jauh jarak antara benda itu dengan orang tersebut
Vistakon’s Accuvue Bifocal mempunyai desain annular meliputi lima zona konsentris. Zona pusat jarak jauh dikelilingi oleh ring dekat, ring jauh lainnya, ring dekat kedua, dan ring jauh terluar. Karena accuvue bifocal tidak mempunyai ketetapan  untuk penglihatan intermediet, klien memerlukan tambahan kekuatan yang tinggi sehingga dapat dipasang tambahan yang tidak sama untuk mencapai penglihatan baik pada jarak dengan computer. Mata dominant dapat dipasang dengan tambahan +1.00 atau +1.50, dan mata non dominant dapat dipasang dengan tambahan yang lebih tinggi.
Bausch and Lomb Softlense Multifocal dan Ciba Vision’s Focus Progressive Lenses mempunyai desain aspheric. Lensa ini mempunyai koreksi penglihatan dekat di pusat lensa ( center near multifocal ). Kekuatan lensa berangsur-angsur menurun untuk koreksi penglihatan jauh selama satu perpindahan ke arah lensa perifer. Desain aspheric multifocal menyediakan penglihatan  jelas pada jarak intermediet, sebagai pertimbangan penting untuk kebanyakan klien di dunia computer sekarang ini. Klien yang menggunakan center near bifocal / multifocal mungkin kehilangan penglihatan jauh mereka di cahaya terang matahari, sejak konstriksi pupil terlalu berlebihan akan membolehkan hanya sinar dekat untuk memasuki mata. Dalam situasi ini, penggunaan sunglasses diperlukan untuk sedikit mendilatasi pupil dan memperbaki penglihatan jarak jauh.

3.        Pembedahan
Pilihan baru pembedahan untuk pengobatan presbiopia sedang diteliti dan telah tersedia di banyak negara. Salah satu contohnya adalah Refratec Inc.’ Conductive Keratoplasty, atau Near Vision CK Treatment, yang menggunakan gelombang radio untuk membuat lebih melengkung kornea untuk memperbaiki penglihatan dekat. Metode ini telah disetujui FDA pada April 2004 untuk penurunan sementara dari presbiopia.
Highly experimental treatment adalah elastic polymer gel lembut yang diteliti, dikatakan akan diinjeksikan ke dalam capsular bag, rongga yang terdiri dari natural lens. Dalam teori, gel akan mengganti natural lens dan menyediakan yang baru, lensa yang lebih elastis. Penelitian juga berfokus pada laser treatment untuk menjadikan keras lensa mata untuk meningkatkan kelenturan/ fleksibilitas dan memperbaiki focus.
Prosedur pembedahan baru mungkin juga menyediakan solusi untuk presbiopia yang tidak ingin menggunakan kacamata atau kontak lensa, implantation of accommodative intraocular lenses ( IOLs ).





ASUHAN KEPERAWATAN
“PRESBIOPIA”

A.    PENGKAJIAN
1.     Data Demografi
a.      Umur, presbiopia dapat terjadi mulai asia 40 tahun.
b.      Pekerjaan, perlu dikaji terutama pada pekerjaan yang memerlukan penglihatan ekstra dan pada pekerjaan yang membutuhkan kontak cahaya yang terlalu lama, seperti operator computer, reparasi jam.
( Istiqamah, 2004 )

2.     Keluhan yang  Dirasakan
a.       Pandangan atau penglihatan kabur
b.      Kesulitan memfokuskan pandangan
c.       Epifora, menunjukkan adanya air mata berlebihan sehingga melimpah keluar
d.      Pusing atau sakit kepala
e.       Mata lelah dan mengantuk
f.       Mata sering terasa pedas setelah membaca
( Istiqamah, 2004 )

3.     Keadaan atau Status Okuler Umum
a.       Apakah klien mengenakan kacamata atau lensa kontak
b.      Di mana klien terakhir dikaji
c.       Apakah klien sedang mendapat asuhan teratur seorang ahli oftalmologi
d.      Kapan pemeriksaan mata terakhir
e.       Apakah tekanan mata diukur
f.       Apakah klien mengalami kesulitan membaca ( focus ) pada jarak dekat atau jauh
g.      Apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton TV
h.      Bagaiman dengan masalah membedakan warna,atau masalah dengan penglihatan lateral atau perifer
i.        Apakah klien pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata
j.        Masalah mata yang tedapat pada keluarga klien
k.      Penyakit mata apa yang terakhir diderita.
( Smletzer, 2001 )

4.     Pemeriksaan
Klien terlebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode “trial and error” hingga visus 6/6. Dengan menggunakan koreksi, jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa sferis positif dan diperiksa dengan menggunakan kartu Jaeger pada jarak 30 cm.
( Istiqamah, 2004 )


B.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Perubahan sensori-persepsi ( visual ) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retina.
2.      Gangguan rasa nyaman ( pusing ) yang berhubungan dengan usaha pemfokusan mata.
3.      Risiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
( Istiqamah, 2004 )

C.    INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Perubahan sensori-persepsi ( visual ) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retina.
Tujuan :
a.       Ketajaman penglihatan klien meningkat dengan bantuan otot
b.      Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap perubahan.
Intervensi :
a.       Jelaskan penyebab gangguan penglihatan.
Rasional : Pengetahuan tentang penyebab, mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
b.      Lakukan uji ketajaman penglihatan.
Rasional : Mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
c.       Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak/ kacamata bantu atau operasi.

2.      Gangguan rasa nyaman ( pusing ) yang berhubungan dengan usaha pemfokusan mata.
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
a.       Keluhan klien ( pusing, mata lelah, berair ) berkurang / hilang
b.      Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
Intervensi :
a.      Jelaskan penyebab pusing, mata lelah, berair.
Rasional : Mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
b.      Anjurkan agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktifitas membaca terus-menerus.
Rasional : Mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
c.      Gunakan lampu atau penerangan yang cukup ( dari atas dan belakang ) saat membaca.
Rasional : Mengurangi silau dan akomodasi yang berlebihan.
d.     Kolaborasi pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.

3.      Risiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Tujuan : Tidak terjadi cedera.
Kriteria Hasil :
a.       Klien dapat mel;akukan aktivitas tanpa mengalami cedera
b.      Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
a.       Jelaskan tantang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan.
Rasional : Perubahan tajam penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan risiko cedera sampai klien belajar untuk mengkompensasi.
b.      Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas.
c.       Batasi aktivitas, seperti mengendarai kendaraan pada malam hari.
Rasional : Mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur.
d.      Gunakan kacamata koreksi/ pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk menghindari cedera.
( Istiqamah, 2004 )




DAFTAR PUSTAKA


Ganong, W.F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Istiqamah, Indriana. N. 2004. Asuhan Keperawatan KLien Gangguan Mata. Jakarta : EGC.

Long, Barbara C, 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung : YIAPK Padjajaran.

Mansjoer, ASrif, dkk, 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.

Smletzer, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner& Suddrath. Jakarta : EGC.